Deni berangkat ya, Pa. ujar putraku selepas aku mengantarnya di depan gerbang sekolah.
Deni setengah berlari.
Dari gelagatnya, aku tahu dia sedikit khawatir dengan tampang satpam sekolah yang berpura-pura manis
Mungkin juga, dia khawatir akan terlambat mengikuti upacara bendera yang sebenarnya belum dimulai.
Dia berlari-lari kecil. Seperti jemaah haji yang hendak melakukan sai. Deni sedikit tergopoh dan tas Alto
warna hijau berpadu hitam itu tampak bergerak, berundak-undak, seperti ada ombak di dalamnya.
Aku memarkir mobil agak jauh dari gerbang sekolah. Tapi telingaku masih bisa mendengar
suara anak-anak usia belasan tahun yang serau-serau dari mikropon upacara
. Belum dimulai! Tebakku sok tahu.
Aku menghidupkan AC mobil, membaca halaman muka koran yang kubeli di lampu merah,
sementara mata dan telingaku masih awas dengan upacara yang akan kusimak secara live
di depan pagar sekolah putraku.
Mikropon masih mendengungkan suara yang sama. Suara anak belasan tahun
yang berdengung seperti nyamuk pagi yang belum sarapan. Mungkinkah ada suara Deni di sana. Entahlah.
Tin tin!! suara klakson itu mengagetkanku. Lebih tepatnya menghenyakkanku.
Itu bukan suara klakson biasa! Ya, aku yakin, aku pernah mendengar jeritan klakson seperti itu. Dulu.
Sangat dulu sekali. Sebelum Deni lahir, sebelum aku mengenal Sonia Akino yang kini menjadi istriku,
sebelum aku menginjakkan kaki di negeri surga manga, sebelum aku terdeportasi, sebelum aku lepas
dari dalil-dalil Pancasila. Akh klakson itu! Klakson ejekan itu!
Segera kubuka pintu mobil. Tapi terlambat. Si empunya klakson sudah keburu masuk ke pagar sekolah.
dia guru di sekolah putraku? Kalau iya, aku akan menuntutnya karena klason mobilnya yang sangat angkuh itu.
Seangkuh Winoto. Apa? Winoto? Aku mengucapkan nama itu? Nama itu!
Kubatalkan niatku untuk memberi teguran intelek kepada si empunya klakson.
Mungkin dia tidak sengaja membunyikan klakson mobil bernada mengejek itu.
Mungkin juga dia lagi buru-buru karena hari ini upacara bendera. Namun, suatu
kebetulankah jika otakku tiba-tiba membuka kembali memori yang jelas-jelas sudah
kuformat puluhan tahun yang lalu? Sudahlah mungkin aku terlalu sensitif dengan bunyi klakson itu.
Aku kembali sibuk dengan koran di tanganku. Kucari rubrik Opini yang ternyata berada di halaman 15
. Ketemu! Karikatur yang mendukung tulisan opini itu. Dipojok bawah sebelah kiri karikatur itu,
ada tiga huruf yang membuat senyumku tiba-tiba mengembang, SDM singkatan dari Sonia-- Deni --Malyono.
Itulah anggota keluarga kecil kami. Aku senang, Sonia selalu menulis inisial itu dikarikatur buatannya.
Aku senang karena itu artinya dia masih mengingat keluarga kecil kami meski sedang sibuk dengan
sketsa-sketsa. Aku juga senang, dia mau kuajak kembali ke tanah airku Indonesia, negara bekas jajahan
nenek moyangnya. Aku juga senang, Sonia bisa kembali menjadi kartunis seperti di Tokyo dulu.
Tapi, hari ini aku tidak akan membahas keluarga kecilku. Aku juga tidak akan membahas Deni,
putraku yang tumbuh dengan dua bahasa ibu sekaligus. Aku ingin membicarakan hal yang paling esensi
dari mozaik hidupku. Hal yang bagi orang hanyalah sekedar remeh temeh tapi bagiku hal yang satu ini
bisa membuatku tak sabar kembali ke Indonesia.
Ngiiiing.
Mikropon terdengar berdenging. Kemudian, sayup-sayup telingaku mendengar intruksi baris-berbaris
yang diatur oleh satu orang lewat mikropon sebatang. Suara itu tak bertempo jelas, antara kemarahan
dan ketegasan. Sejenak, timbul kesunyian saat suara itu mengeluarkan hentakan terakhir. Tebakanku,
tensi darah sang guru pasti naik. Napasnya ngos-ngosan mengatur 1.125 siswa di lapangan upacara.
Akan tetapi usahanya lumayan berhasil. Tensi darahnya yang naik itu mampu menurunkan keributan
di lapangan dan menggantinya dengan keheningan yang teramat sangat hikmat.
Sebuah metode penguasaan massa yang dinamis sekaligus cengeng!
Di sekolah anakku, upacara berlangsung dalam tiga bahasa, bahasa Inggris, bahasa Belanda,
dan Bahasa Indonesia. Sekalian saja bahasa Jepang, toh semuanya pernah menjajah kita!
Anakku Deni pasti tak mengerti, mengapa di tempat kelahiran ayahnya, yang berbau luar negeri
sangat laris manis. Language, Fashion, Food, Film, yang berbau luar negeri alias impor pasti laku keras.
Seperti jualan kacang goreng, kata orang. Padahal, analogi itu sangatlah keliru. Kacang goreng sudah
kalah pamor dengan popcorn! Popcorn--, ah lagi-lagi, luar negeri.
Upacara yang susunan acaranya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia itu kini memasuki acara
yang paling aku tunggu-tunggu. Pembacaan Pancasila oleh seluruh peserta upacara. Begitu hebatnya pancasila
sehingga pembawa acara mengatakan seluruh peserta upacara. Mungkinkah aku juga harus ikut?
Pancasila! teriak Pembina upacara.
Pancasila! ikut seluruh peserta, termasuk aku yang refleks mengikutinya.
Satu!
Satu!
Ketuhanan yang Maha Esa
Ketuhanan yang Maha Esa.
Hatiku mengucap hal yang sama. Ketuhanan yang maha Esa. Sila pertama dari pancasila itu membuatku sedih.
Betapa tidak. Sekarang ini, ketuhanan hanya tameng. Berapa banyak orang yang hanya memasukkannya pada
sehelai KTP sebagai pelengkap identitas. Berapa banyak yang justru menggantinya dengan kedudukan
yang Maha Tinggi, atau kekayaan yang nomor satu. Kemanakah sila ke-satu harus berlabu?
Dua!
Dua!
Kemanusiaan yang adil dan beradab
Kemanusiaan yang adil dan beradan.
Aku mengulang kalimat yang sama. Tapi kali ini, lidahku terasa keluh.
Seperti ada biji kedondong yang nyangkut. Mungkinkah ini karena Winoto. Memoriku terbuka sudah.
Suara klakson bringasan yang membuat aku terkejut, suara klakson angkuh yang membuat kue-kue
daganganku terjatuh ke tanah berpasir. Adil dan beradab. Itu juga yang diucapkan Winoto
saat dia menjadi pembina upacara puluhan tahun yang lalu.
Tiga!
Tiga!
Persatuan Indonesia
Persatuan Indonesia
Deportase! Itu yang kuingat paling lekat. Winoto, mobil bagus berklakson angkuh itu dia beli dari
penghasilan tambahannya sebagai tenaga penyalur TKW. Emak salah satu TKW yang terperas
keringat olehnya. Kalau saja dulu aku bisa membaca, mungkin Emak tidak akan meninggalkanku,
meninggalkan kami lima beradik demi suatu pekerjaan yang belum jelas rimbahnya.
Tragisnya, kabar terakhir yang kudengar, Emak dideportasi setelah 3 tahun bekerja. Naasnya,
Emak bukan dideportasi ke Indonesia, tapi malah belok ke Jepang, ke Hokaido, tanpa bekal
bahasa Jepang sepatah pun. Aku kehilangan jejak Emak meski aku sudah menyusulnya ke Jepang
selama 10 tahun.
Empat!
Empat!
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, dalam permusyawaratan, perwakilan.
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, dalam permusyawaratan, perwakilan.
Aku rakyat dan aku dipimpin. Seingatku, aku masih punya presiden waktu aku putus sekolah di
kelas 5 SD karena tidak punya biaya. Setahuku, aku masih punya pejabat-pejabat berdasi,
berpeci, berjas, dan memiliki senyum terbingkai saat aku tidak bisa baca tulis. Seingatku,
aku masih menjadi orang Indonesia saat keempat adikku kelaparan dan si bungsu
Zilla meninggal di kolong jembatan karena maag akut.
Terkenang Zilla, air mataku hampir tumpah. Tapi aku sadar, masih ada satu sila lagi yang belum kudengar.
Lima!
Lima!
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia,
Ngiiing. Mikropon berdengin. Sila terakhir selesai dibacakan.
Air mataku kini benar-benar jatuh, membasahi halaman koran yang tadi kubaca.
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Inilah yang paling aku percaya.
Bahwa suatu hari nanti, aku akan memiliki keadilan sosial.
Aku tidak perlu lagi dibodohi dan dicurangi karena tidak bisa membaca,
aku tidak perlu berjualan kue lagi demi mengisi perut adik-adikku,
aku tidak perlu merantau untuk mencari Emak, aku tidak perlu menahan nafsuku untuk belajar di sekolah,
aku tak perlu ketakutan dengan suara klakson Winoto. Aku percaya, aku bisa memiliki semua
yang tak pernah kucicipi puluhan tahun silam. Saat aku baru putus sekolah kelas V SD.
Tak lama dari itu, aku berjodoh dengan profesi baruku, loper koran. Setiap pagi, sebelum subuh,
aku sudah harus berada di kios untuk melipati koran, menghitung ekspemplar
(untung aku masih bisa menghitung!), dan mengepaknya. Sehabis Subuh, aku belajar mengeja,
membaca, dan mengingat huruf. Koran-koran itu adalah saksi bisu aku belajar membaca dari sekolah
jalanan dan dari guru-guru asongan. Aku belajar apa saja yang penting bermakna. Aku bertekad,
aku harus bisa menyusul Emak, mengisi perut adik-adikku, dan bila perlu menjadi orator
handal seperti Bung Karno!
Nasib menggulungku ke dalam impian yang amat tinggi. Impian atau khayala.
Entah apalah namanya. Yang pasti, aku sudah mewujudkan mimpi sederhanku,
menyekolahkan anakku di sekolah Internasional dan membuat anakku pandai membaca sebelum dia masuk SD.
Tin..Tin!! Klakson mobil itu menjerit lagi. Tidak bisa dibiarkan!
Aku membetulkan gagang kacamataku. Kuhempaskan pintu mobil dan kunaikan tensi darah sejadi-jadinya.
Melihatku keluar, si empunya klakson juga menampakkan diri.
Kenapa? Anda marah? Tersinggung? tanya si lelaki dengan seragam safari warna hijau lumut itu.
Aku diam sejenak. Tahi lalat dihidungnya dan kumisnya yang hanya satu centi mengingatkanku pada seseorang.
Ada apa Lucky? suara serak terbatuk-batuk itu hendak menghalang perdebatan kami.
Ini, Pa. Ada yang mau ngajak ribut.
Sudah-sudah, antar Papa ke rumah sakit dulu, baru kalian ribut.Sergahnya sambil terbatuk-batuk.
Telingaku masih jeli mengenali suara lelaki tua beruban yang berada di dalam mobil.
Nanti kita selesaikan. Ucap si kumis dua centi.
Mobil itu berlalu. Dari belakang, menempel stiker ular kobra dengan tulisan bahasa Inggris We not tow